Rabu, 25 Januari 2012

Hidup Pemuda

“Menyerang tanpa taktik tidak mungkin. Taktik tanpa berfikir juga tidak mungkin, berfikir tanpa kebijaksanaan lebih tidak mungkin.” Di negara kita sangat miskin orang-orang bijak dan pemuda bangsa dengan inteleknya di tuntut menempuh jalan lain untuk memerangi ketertindasan, yaitu dengan belajar untuk menjadi cerdas. Cerdas dalam hal mempertahankan prinsip, jangan sampai menjadi orang yang berteriak ketika di bawah dan menginjak ketika berada di atas.
Penindasan adalah dilema, dan turun aksi ke jalan adalah sampulnya. Isi yang sesungguhnya adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan generasi penerus bangsa yang anti dengan kejahatan terhadap rakyat. Generasi yang mampu melakukan revolusi secara besar-besaran terhadap negara yang sudah terlanjur kacau balau ini. Berani memangkas pemikiran kolot generasi tua, tahan godaan dan iming-iming materi.
Dan semua yang telah di sebutkan di atas, sangat mustahil di lakukan tanpa iman di dalam hati. Benteng terakhir seseorang dalam menghadapi dilema persoalan yang ada. Tanpa iman hanya akan melahirkan penyimpangan. Dan penyimpangan akan melahirkan penyimpangan-penyimpangan selanjutnya.
Bagi kita, siapapun itu. Tidak perlu berfikir jauh. Bahwa kita harus seperti Soekarno dengan jiwa pemberontaknya, seperti Soe Hok Gie dengan semangat revolusinya atau harus terlebih dulu memiliki jabatan penting di pemerintahan dan seterusnya. Seolah-olah tanpa embel-embel status kita tidak dapat  berbuat apa-apa.
Padahal segala sesuatu yang rumit dan yang besar berasal dari sesuatu yang sederhana. Kita berteriak bahwa Gayus Tambunan adalah koruptor. Tapi kita tidak pernah berfikir termasuk koruptorkah kita? Ingat menyelewengkan uang walau hanya seribu juga di sebut koruptor. Gemarngaret dalam hal waktu bisa di bilang ketidakadilan. Sebab telah merugikan waktu orang lain. Kemudian bagaimana mungkin kita bisa memaksa pemerintah untuk peduli terhadap rakyat. Sedang rakyat sesama rakyat saja sudah terkikis rasa kepeduliannya. Yang kaya menindas yang miskin. Bahkan yang sesama miskin pun masih menyimpan rasa dengki.
Kesalahan sepenuhnya tidak bisa di bebankan kepada pemerintah tetapi juga kepada kita. Disadari atau tidak sesungguhnya kita yang di bawah ini yang memicu terjadinya konflik besar, andai kita yang di bawah tidak saling menyikut. Adalah suatu kesalahan mutlak jika pemerintahannya masih menyeleweng dan memang semestinya dibantai habis-habisan.
Saya berkata seperti ini bukan berarti saya menyarankan rekan-rekan semua untuk tidak berbuat apa-apa, lalu terbebas dari memonitori kinerja pemerintah. Akan tetapi saya mengajak rekan-rekan semua untuk melalukan tindakkan nyata, silahkan perbaiki diri sndiri, lalu bantu sesama untuk memperbaiki diri mereka. Tidak perlu dengan sesuatu yang WAH! buang sampah pada tempatnya, menjaga fasilitas umum yang sudah di bangun pemerintah,  berbicara tanpa menimbulkan amarah orang Lain, belajar dengan bersungguh-sungguh, bekerja dengan kemampuan dan keahlian masing-masing, menanam pohon d pekarangan, di pinggir jalan dan sebagainya. . lalu mulai dari sekarang ubahlah mainset bahwa kita hidup di dunia ini bukanlah untuk “bersaing” tetapi untuk “bersanding”.
 sesuatu yang sederhana tapi akan sangat berdampak besar untuk kedepannya dan jika di lakukan secara bersama-sama. Dan segala sesuatunya butuh proses. Tidak mesti melalui tembak senjata dan pertumpahan darah. tapi melalui kesederhanaan kita untuk mengubah yang sederhana menjadi luar biasa kedepannya. .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar